Institute for National and Democratic Studies

Mengenang Ny. Jasih

leave a comment »

Ny Jasih (30) adalah seorang perempuan, ibu dengan dua anak yang masih belia, dan istri dari seorang suami bernama Mahfud (32) yang bekerja sebagai buruh angkut di kawasan pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Tekanan hidup yang sangat berat, ditambah keharusan mengeluarkan dana yang cukup besar untuk berjuang mempertahankan hak hidup Galuh (4) anak bungsunya, yang menderita kangker otak.
Semuanya mendorong Ny. Jasih mengambil jalan pintas. Membebaskan kesengsaraan anak yang dilahirkannya dengan membakar diri bersama dua anaknya di sebuah rumah kontrakan yang disewa ia dengan suaminya di Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. (Kompas, 16/12). Sudah pasti kisah di atas bukan sebuah fiksi roman picisan. Oleh karenanya, secara kualitas, kadar dramatisnya pasti di atas kisah-kisah dramatis dari drama sinetron televisi. Kisah itu adalah kenyataan hari ini.

Kenyataan yang sangat mungkin melatari kehidupan mayoritas keluarga-keluarga miskin di berbagai penjuru negeri, khususnya di tengah kota megah seperti Jakarta. Kenyataan yang menunjukkan bagaimana perempuan harus menanggung beban terberat akibat krisis ekonomi. Krisis yang bagi kaum papa tidak pernah berkesudahan. Krisis ekonomi adalah kenyataan empiris yang tidak perlu diperdebatkan dengan berbagai asumsi akademis.

Menyiram diri dengan Minyak Tanah

Ny. Jasih mengambil jalan kematiannya dengan menyiramkan dan membakar minyak tanah di atas kasur yang ditiduri ia dan dua anaknya. Barangkali memang hanya sebuah kebetulan. Kematian Ny. Jasih dengan cara demikian seperti sebuah satire tragis. Satire yang mempertontonkan kontradiksi antar dua simbol, kemiskinan versus kebutuhan yang semakin lama semakin tidak kompromi. Satire yang memberi kesan pada banyak orang tentang minyak sebagai simbol dari kebutuhan hidup, bisa menjuruskan orang dari kaum miskin pada pilihan-pilihan tragis seperti yang dilakukan Ny. Jasih.

Dalam perkara dia menggunakan minyak tanah sebagai alat untuk mengakhiri hidupnya. Ny. Jasih bukan seorang analis, kritikus sosial, atau aktivis pembela hak perempuan. Dari surat terakhir yang ia tulis dalam bahasa Sunda, dia hanya mengingatkan agar suaminya melunasi utang-utangnya, selain menyatakan bahwa dirinya sudah putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Jelas tidak ada uraian-uraian yang secara khusus dimaksudkan untuk mengkritik kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang merencanakan akan menaikkan BBM, termasuk harga minyak tanah. Meskipun ibu-ibu seperti Ny. Jasih sudah pasti akan menyesalkan keputusan kenaikan ini.

Bisa jadi Ny. Jasih mengetahui rencana kenaikan BBM, Informasinya bisa dari mana saja, dari mulut ke mulut atau dari ucapan-ucapan para pedagang pasar yang menaikkan harga-harga bahan kebutuhan pokok. Meskipun baginya, alasan kenaikan BBM tidak dia mengerti dengan baik, seperti halnya mayoritas ibu-ibu di kampung-kampung miskin di seluruh negeri.

Bisa jadi penggunaan minyak tanah untuk mengakhiri hidupnya karena suatu yang kebetulan. Kebetulan karena minyak tanah adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Kebetulan penggunaannya sederhana karena hanya menuangkan ke dalam kompor, kemudian diserap oleh sumbu, lantas dinyalakan dengan hanya mementikkan sebuah korek api. Kebetulan cara seperti inilah yang biasa dia lakukan untuk menjaga kelangsungan hidup dia, suami, dan anak-anaknya. Kebetulan.

Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana kayu bakar sudah tidak mungkin ditemukan, minyak tanah adalah material yang hampir menjadi sahabat karib ibu-ibu dari keluarga miskin. Naiknya harga minyak tanah adalah bencana baru bagi mereka. Sebab bukan hanya harga bahan-bakar itu saja yang naik, harga-harga dan ongkos kebutuhan lain pun sudah pasti akan ikut melonjak.

“Feminization of Poverty”

Apa yang kita lihat dari kasus Ny. Jasih adalah salah satu ekspresi tentang suatu gejala yang disebut dengan feminisasi kemiskinan (Feminization of Poverty). Konsep ini bukan sebuah rekaan tanpa basis data yang konkret. Penelitian diberbagai negara menunjukkan bahwa perempuan menjadi elemen yang harus menanggung beban terberat akibat krisis.

Kita tidak bisa menutup mata tentang kemiskinan yang menjadi penyebab maraknya perdagangan manusia, khususnya perempuan dan anak di Indonesia. Selain itu, kemiskinan juga menjadi penyebab dari hengkangnya perempuan ke berbagai negeri, mengadu nasib dan mempertaruhkan hidup dengan mereka yang dicintai di tanah air, bahkan karena kemiskinan pula lebih dari 60 persen perempuan yang bekerja menjadi tulang-punggung utama kehidupan keluarga. Kelak, sebagaimana diperkirakan banyak analis dalam dan luar negeri, abad 21 ini perempuan adalah kekuatan produktif yang mayoritas di sektor industri dan elemen sosial yang paling mobile di seluruh negeri.

Meski kenyataan telah menegaskan pentingnya mendudukan persoalan perempuan pada porsinya yang sesuai, adil, dan demokratis, namun penyikapan atas masalah tersebut seolah masih tidak fokus. Kemiskinan yang saat ini paling besar diderita perempuan, nyatanya tidak disikapi dengan program yang secara konkret membongkar akar kemiskinan tersebut.

Diskriminasi dalam hal pengupahan dan jaminan sosial bagi buruh perempuan masih marak terjadi dan tuntutan untuk memberikan akses tanah milik sebagai lahan garapan bagi petani perempuan pun masih menjadi mimpi. Belum lagi soal pelayanan kesehatan dan pendidikan. Perempuan masih harus menggigit jari. Kemandekan ini karena diskriminasi masih dipandang sebatas masalah kultural. padahal sudah semestinya diskriminasi harus dipandang sebagai masalah politik dan masalah ekonomi.

Peristiwa kematian tragis Ny. Jasih ini terjadi beberapa hari sebelum kita memperingati Hari Ibu Nasional yang jatuh tanggal 22 Desember 2004 yang akan datang. Kematian Ny. Jasih adalah peringatan yang mengingatkan kita akan pentingnya kerja keras untuk mengubah keadaan hari ini untuk perdamaian dan keadilan bagi semua.#

Advertisements

Written by INDIES

March 13, 2008 at 6:30 pm

Posted in Miskin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: