Institute for National and Democratic Studies

4 Petani Masih Ditahan

leave a comment »

Warga Durin Tonggal Masih Enggan Mencoblos
Selasa, 15 April 2008 | 00:15 WIB

Medan, Kompas – Empat petani warga Dusun IV dan Dusun V Durin Tonggal, Kecamatan Pancurbatu, Deli Serdang, hingga hari Senin (14/4) masih ditahan di Polresta Medan. Mereka adalah Jusia Sitepu (35), Simson Gurusinga (35), Julianton Keliat (19), dan Udin (35).

Mereka ditahan dengan tuduhan melakukan penganiayaan terhadap orang secara bersama-sama. Penangkapan mereka terjadi sesaat setelah Kepala Polsek Pancurbatu Ajun Komisaris Agustinus Sitepu tertembak senapan angin saat terjadi bentrok antarwarga Durin Tonggal pertengahan Maret lalu.

Maranata br Gurusinga (38), warga Dusun V, Durin Tonggal, mengatakan, dirinya juga kena tembak di matanya saat bentrok warga tahun lalu. Namun, si penembak masih berkeliaran dan tidak ditangkap. ”Saya tidak tahu apa peluru masih di mata atau tidak,” kata Maranata sambil menunjukkan luka di kelompok matanya.

Bentrok yang sudah terjadi sejak tahun lalu itu hingga kini juga belum menemui titik terang. Warga Durin Tonggal masih menuntut pengembalian lahan seluas 102 hektar eks PTPN II di luar HGU yang diduga dijual oleh oknum pejabat desa setempat.

”Saya tidak akan nyoblos pilkada besok sebab TPS saya sama dengan TPS mereka. Saya takut datang,” ujar Eni br Tarigan (28), warga Dusun V, Durin Tonggal, yang ditemui di Kantor Kontras kemarin. Mereka yang dimaksud Eni adalah oknum pejabat desa yang diduga menjual tanah milik warga.

Namun, Eni tidak mau menyatakan dirinya merepresentasikan saudara-saudaranya di Durin Tonggal. ”Nanti saya dituduh provokator,” kata Eni.

Sejumlah warga mengatakan belum tahu akan mencoblos atau tidak. Mereka belum menentukan pilihan lebih karena tidak tahu siapa yang akan dipilih. ”Saya belum tahu siapa yang akan saya pilih,” kata Maranata.

Menurut Eni, sampai saat ini situasi di Durin Tonggal masih meresahkan. Bapak-bapak pergi dari desa, yang ada di situ hanya ibu-ibu dan anak-anak.

Eni bercerita, pekan lalu seorang warga, yakni Kedah br Ginting, warga Dusun IV, batal memanen jagung yang sudah ia petik sebanyak tiga ton. Jagung yang sudah dipetik itu dirampas pihak lawan, anak buah mantan pejabat desa setempat.

”Dia tidak berani lapor polisi, sudah trauma sama polisi,” tutur Eni. Banyak warga yang sudah lelah terus diperiksa polisi sejak bentrok warga terjadi.

”Tidak ada hasilnya. Maka, sekarang kami minta bantuan LSM,” kata Eni. Kasus ini kini didukung 12 organisasi nonpemerintah di Sumut.

Sejarah tanah sengketa During Tonggal terjadi sejak tahun 1973. PTPN IV waktu itu mengambil alih tanah warga melalui kepala desa setempat.

Tahun 1997, warga membentuk kelompok tani untuk mengambil alih tanah. Sempat terjadi bentrok warga dengan petugas keamanan yang menjadikan satu orang tewas, yakni Ponirin, dan satu orang cacat seumur hidup, yakni Kenongo.

Warga akhirnya mendapat tanah seluas 350 hektar dipimpin kades setempat waktu itu. Namun, belakangan kades itu diduga mengklaim tanah seluas 120 hektar yang dianggap kelompok tani Arih Ersada Aron Bolon adalah hak mereka untuk keperluan pribadinya.

Bentrok warga meminta tanah terus terjadi. Warga, khususnya ibu dan anak-anak, bahkan pernah mengungsi ke DPRD Provinsi Sumut. DPRD Sumut berjanji akan memfasilitasi pertemuan warga yang bersengketa pada 30 April nanti. (WSI)

Advertisements

Written by INDIES

April 15, 2008 at 7:45 am

Posted in Ketahanan Pangan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: