Institute for National and Democratic Studies

SBY pembohong Besar!

leave a comment »

FPR-Jakarta (Mayday, 1/5)—Persatuan rakyat yang kian kokoh akibat krisis yang kian mencekik dan bangkrutnya struktur ekonomi adalah dua syarat pokok yang bisa mengarah pada jatuhnya kekuasaan. Hal ini yang menyebabkan peringatan Mayday 2008 mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah SBY-Kalla. Indikasinya adalah adanya pidato khusus Presiden SBY pada Rabu, (30/1) di Jakarta.

Seolah hendak bersiap menjawab tuntutan rakyat, Pidato Presiden SBY itu menyoroti masalah kenaikan harga minyak dunia yang menurutnya telah menyebabkan membengkaknya subsidi BBM menjadi sebesar Rp 260 triliun. Oleh karenanya, masyarakat diminta menghemat penggunaan BBM. “Indonesia termasuk yang paling boros dalam penggunaan BBM,” kata Presiden SBY.

Anti Rakyat

Pidato ini sungguh tidak berdasar. Karena beban yang sangat berat akibat kenaikan harga BBM saat ini sesungguhnya akibat dari sikap dan kebijakan pemerintah SBY-Kalla sendiri. Selama masa pemerintahan Presiden SBY—yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada era Abdurahman Wahid—ini telah mengambil banyak kebijakan di bidang energy yang mencederai rakyat.

Di antara kebijakan-kebijakan itu adalah kenaikan 40 persen harga gas pada bulan November 2004, kemudian kenaikan harga BBM rumah tangga pada 1 Maret 2005 sebesar rata-rata 20 persen, kenaikan harga BBM rumah tangga lagi pada bulan Oktober 2005 yang melejit melampaui 200 persen, dan terakhir digadaikannya daerah kaya minyak di Blok Cepu kepada Exxon Mobile Oil, raksasa perminyakan asal Amerika Serikat.

Kebijakan-kebijakan tersebut sesungguhnya mencerminkan karakter politik dari pemerintahan SBY-Kalla sebagai pemerintahan yang anti-rakyat, anti-buruh, anti-petani, dan anti-kaum miskin dan marjinal. Kebijakan tersebut telah mencekik daya beli masyarakat dan pada akhirnya menyengsarakan semua kalangan.

Dengan demikian, SBY sesungguhnya tidak bisa sekadar mengajak rakyat untuk berhemat sebab pada dasarnya dengan pendapatan rakyat yang kian kecil, berhemat pun sesungguhnya merupakan hal yang hampir mustahil. “Apa yang bisa dihemat, wong pendapatan kami habis untuk beli makan,” jelas seorang ibu rumah tangga di kawasan Bangka, Jakarta Selatan.

Presiden SBY juga keliru bila menuduh rakyat Indonesia sebagai pemboros energi. Dari 230 juta rakyat Indonesia, hanya sebagian kecil dari mereka yang menggunakan minyak tanah untuk kebutuhan memasak di rumah tangganya. Sebagian lagi, dalam jumlah yang lebih kecil sudah menggunakan gas, dan jauh lebih kecil yang menggunakan solar dan bensin.

Penggunaan minyak tanah dan gas terbesar, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga, adalah kawasan-kawasan perkotaan. Sementara di pedesaan, selain karena melangitnya harga minyak tanah dan rendahnya penggunaan gas, kayu bakar masih menjadi sumber bahan bakar utama masyarakat.

Selain itu, meskipun menjadi negara penyumbang emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia. Namun rekor ini bukan karena gaya hidup masyarakat yang boros dalam pemakaian bahan bakar fosil (minyak tanah, batubara, dan gas), melainkan karena pembakaran hutan oleh perusahaan-perusahaan pemegang konsesi hutan atau pemegang konsesi perkebunan-perkebunan besar. Siapakah pemilik-pemilik perusahaan-perusahaan itu? Merekalah imperialis yang ditopang oleh para komprador ekonomi Indonesia.

Spekulasi

Krisis harga minyak dan pangan di Indonesia saat ini bukan takdir yang tidak bisa diubah. Krisis ini secara jelas diakibatkan oleh tingginya kadar spekulasi dalam struktur perekonomian dunia saat ini. Spekulasi keuangan tingkat global menjadi penyebab utama dari adanya krisis ini. Demikian jelas A. Prasetyantoko dalam sebuah diskusi di INFID, Jalan Mampang Prapatan XI No 23 Jakarta.

“Bila prediksinya adalah pelambatan pertumbuhan, semestinya permintaan minyak dunia mengalami penurunan, sehingga trend harga minyak seharusnya turun,” jelas Prasetyantoko. Sikap OPEC yang menolak menambah produksi bisa dipahami karena tingkat konsumsi minyak memang tidak bertambah. “Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dalam ekonomi, keadaan sekarang disebut sebagai counter-cycling.”

Lantas apa yang terjadi? Menurut Prasetyantoko, Kenaikan harga minyak dan pangan dunia disebabkan adanya migrasi kapital secara besar-besaran dari sektor keuangan ke sektor komoditi. Ini merupakan respon atas krisis di sektor keuangan yang dipicu oleh krisis subprime mortgage di Amerika Serikat.

Spekulasi adalah fenomena ekonomi yang terjadi akibat adanya kontradiksi dasar dalam struktur kapitalisme, yakni antara kerja dengan kapital. Kontradiksi ini terwujud dalam memusatnya kekayaan di segelintir orang dan overproduksi barangdagangan di satu sisi dan meluasnya kemiskinan dan jatuhnya daya beli masyarakat di sisi lain. Penumpukkan kapital yang kian tidak terkendali dan pemiskinan yang semakin terglobalisasi dalam rahim kapitalisme monopoli yang melahirkan spekulasi.

Dalam kasus harga minyak mentah, spekulasi telah telah memperberat tekanan pada aspek permintaan. Artinya, selain adanya permintaan riil untuk kebutuhan konsumsi, terdapat pula permintaan yang bersifat virtual untuk kebutuhan spekulasi. Sebagaimana hukum ekonomi yang sudah biasa kita kenal, meningkatnya permintaan akan melambungkan harga.

Spekulasi itu sendiri terwujud dalam dua bentuk utama, yakni penimbunan yang dilakukan melalui perampokan kekayaan alam dunia ketiga oleh imperialis dan perdagangan konsesi pengeboran dan perjanjian jual-beli di pasar komoditi. Kasus Exxon Mobile di Blok Cepu, Aceh, dan Natuna adalah salah satu bentuk spekulasi yang ditujukan untuk penimbunan. Sementara kasus penjualan konsesi eksplorasi Blok Cepu oleh Exxon Mobile Oil kepada Petrochina adalah bentuk kedua spekulasi, yakni perdagangan konsesi.

Spekulasi-spekulasi seperti itulah yang telah memperberat harga komoditi minyak mentah dunia. Karenanya, tidak ada cara lain untuk mengatasi kenaikan harga minyak yang sudah tidak masuk akal ini, selain melakukan nasionalisasi sumber-sumber energi vital, khususnya minyak dan gas, serta sumber-sumber mineral lainnya yang ada di bumi Indonesia. Tanpa itu, mustahil Indonesia akan bisa terbebas dari jeratan krisis yang kini kian mencekik.***

Advertisements

Written by INDIES

May 1, 2008 at 7:24 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: