Institute for National and Democratic Studies

Krisis Politik di Libya dan Ancaman Terhadap Kedaulatan!

leave a comment »

Pertengahan Maret lalu, atas nama keamanan dan perlindungan terhadap masyarakat sipil di Libya Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan resolusi guna mengesahkan intervensi militer Amerika Serikat dan NATO yang dipimpin Perancis terhadap Libya dan sekarang Pantai Gading. Sebelumnya kebangkitan rakyat di kawasan Timur Tengah mulai dari Mesir, Tunisia dan Bahrain. The Institute for National and Democracy Studies (INDIES) memandang bahwa tata dunia yang hari ini berada dibawah dominasi negeri-negeri ”super power” mulai terancam.

“Krisis energi, pangan, dan finansial yang terjadi didunia dan berawal dari tak terpecahkannya kontradiksi internal di negeri-negeri dunia pertama telah menunjukan wajahnya yang paling kasar yaitu intervensi militer. Pergolakan yang terjadi di Timur Tengah merupakan Amerika Serikat dan sekutunya dikawasan Timur Tengah dan Afrika merupakan kelanjutan pengukuhan dan penuntasan tata dunia baru di era kapitalisme monopoli” terang Oki Firman Febrian, Direktur INDIES, di Jakarta (6/4).

Menurut INDIES, kepentingan negeri-negeri dunia pertama untuk keluar dari krisis internalnya yang akut adalah dengan melakukan intervensi militer, dan hal ini tercermin dari ongkos perang. Sebut saja AS sebagai yang paling berkepentingan anggran militernya semakin membesar. Membesarnya anggaran militer ini bergerak intensif sering dengan operasi-operasi militer yang dilakukan oleh AS dan sekutunya di berbagai negeri, jika tak dapat dikatakan sebagai agresi militer, demikian analisa peneliti INDIES, Aan Anshary.

“Tahun 2011 AS meningkatkan anggaran militer sebesar $ 708,3 Milyar, anggaran ini yang terbesar dalam sejarah termasuk pada periode invasi AS ke Korea dan Vietnam dan jauh lebih besar daripada anggaran militer sejak Perang Dunia II. Lebih dari sepertiga Angkatan Bersenjata AS atau 400.000 tentara dikerahkan di luar negeri. Ada sedikitnya 100.000 tentara di 800 pangkalan AS di 80 negara. AS telah mengintensifkan agresi militer dan intervensi di berbagai belahan dunia atas nama perang terhadap terorisme” jelasnya.

Muka bopeng ”kemanusiaan”
Kepentingan AS dan sekutu semakin jelas dalam intevensi militer yang mereka lakukan yaitu penataan pengukuhan ulang skema dominasi di kawasan Timur Tengah terkait dengan kepentingan nasional AS dan sekutu. Perlakuan berbeda terhadap perang sipil di Libya dan kebangkitan rakyat di Bahrain telah memperlihatkan sikap hipokrit misi atas nama ”kemanusian”. demikian tegas Aan

”Sikap AS dan sekutu yang bersikap keras terhadap Libya dan dukungannya terhadap serangan militer Arab Saudi terhadap aksi masyarakat sipil di Bahrain merupakan muka bopeng alasan kemanusiaan yang mereka pakai dalam melakukan intervensi militer di Timur Tengah, Ini adalah Hipokrasi!” simpulnya.

Ditanya tentang sikap INDIES terhadap aksi militer AS dan NATO di Timur Tengah, Direktur INDIES mengatakan bahwa hal tersebut adalah pelanggaran kedaulatan rakyat dan self determination rights.

”Sudah selayaknya dunia Internasional melakukan evaluasi terhadap AS dan sekutunya tentang kiprah mereka selama ini. Negeri-negeri didunia, terutama negeri dunia ketiga harus meninjau ulang seluruh keterlibatan negerinya dengan AS dan sekutunya, guna menjamin kedaulatan dan prinsip self determination” tegas Oki.

Ekonomi dan Geopolitik Indonesia-US
Ekonomi Indonesia sendiri sampai hari ini sangat tergantung dengan investasi asing, dalam  hal ini AS. Nilai perdagangan US dan negeri-negeri di ASEAN pada tahun 2008 bernilai U$D 177 Milyar dan dengan Indonesia nilai investasi langsung perusahaan AS di Indonesia pada kuartal I/2010 mencapai US$436,9 juta, dimana nilai tersebut merupakan 11,6% dari total keseluruhan penanaman modal asing pada rentang waktu tersebut, dan titik utama investasinya tersebar dalam perusahaan yang berorientasi ekspor pada sektor migas, non migas, pertanian, industri dan tambang. Pada Desember 2010 nilai ekspor mencapai 16.783,40 juta US$.

Tidak hanya dari segi ekonomi, aspek kerjasama militer yang seringkali muncul dalam bentuk latihan militer bersama diwilayah perairan hakikatnya adalah untuk memastikan jalur transit gratis dari, jalur laut utama dari Teluk Persia / Samudera Hindia ke Samudra Pasifik: Selat Malaka strategis, Sunda, Lombok, dan Selat Makassar serta Laut Cina Selatan, dengan nilai perdagangan dan energi melalui jalur tersebut senilai 1,5 milyar USD.  Selain itu  Tenggara Asia adalah garis depan dalam kampanye AS dengan platform anti terorisme dan telah mendirikan Komando Asia Pasifik dengan pangkalan militer di negeri Singapura, dan Thailand.

Advertisements

Written by INDIES

April 7, 2011 at 3:47 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: