Institute for National and Democratic Studies

Buruh Migran Tumbal Integrasi ASEAN

leave a comment »

Jakarta. Institute for National and Democratic Studies (INDIES) mengkritik desakan Presiden SBY tentang percepatan penyatuan ekonomi ASEAN harus segera dilakukan. Menurut Direktur Eksekutif INDIES, Oki Firman Febrian, SBY abai pada kenyataan integrasi ASEAN menumbalkan buruh migran yang mayoritas berasal dari Indonesia.

Oki menjelaskan, terdapat kurang-lebih enam juta buruh migran yang tersebar di dalam kawasan ASEAN. Sebagian besar berasal dari Indonesia. Selebihnya Myanmar, Kamboja, dan Vietnam. Sebagian besar buruh migran bekerja di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand. Mayoritas buruh migran di kawasan ASEAN adalah para pekerja manual (unskilled labor) dan bekerja di sektor domestik, perkebunan, dan pabrik-pabrik pengolahan.

Lebih lanjut, Oki menerangkan, terjadinya fenomena migrasi tenaga kerja di kawasan ASEAN diakibatkan karena adanya kesenjangan ekonomi di tingkat kawasan. Faktor pendorong migrasi tidak hanya disebabkan karena kegagalan pembangunan yang melahirkan limpahan pengangguran sebagaimana terjadi di Indonesia, melainkan juga karena tingginya permintaan tenaga kerja murah untuk menghidupkan industri dan perekonomian di beberapa negara ASEAN.

Integrasi ekonomi di bidang industri tidak mungkin terjadi tanpa adanya tenaga kerja murah yang dipasok ke kantong-kantong industri di berbagai kawasan perdagangan bebas (free trade zone) yang ada di berbagai negara di kawasan ASEAN, khususnya Malaysia dan Singapura. Industri pengolah bahan mentah, seperti perkebunan dan pertambangan, tidak mungkin bisa menjadi keunggulan komparatif ASEAN jika tidak ditopang tenaga dari jutaan buruh migran yang bekerja dengan upah rendah tanpa perlindungan yang memadai.

Integrasi ekonomi di bidang jasa keuangan dan perbankan justru bersandar pada arus uang kiriman buruh migran (remitansi). Hal ini, salah-satunya dibuktikan dengan agresifnya perbankan Malaysia mengekspansi bank-bank di Indonesia untuk turut mengeruk manisnya uang remitan. Hal ini tidak mengherankan, sebab berdasarkan penelitian Bank Pembangunan Asia (2008), arus remiten di koridor Malaysia dengan Indonesia adalah yang terbesar dibandingkan koridor lain.

Tingginya ketergantungan proses integrasi ASEAN pada topangan tenaga buruh migran inilah yang menyebabkan kualitas perlindungan buruh migran di tingkat kawasan ASEAN sangat buruk baik di tingkat negara-negara pengirim maupun negara-negara penerima. Pembicaraan di tingkat kawasan ASEAN tentang buruh migran pun hanya sekadar isapan jempol yang tidak bermakna apapun. Hal ini ditujukan agar nilai tawar tenaga kerja migran tetap rendah sehingga pengerukan keuntungan ekonomi bisa tetap maksimal.

Jika SBY dan para pemimpin ASEAN hendak mendorong integrasi kawasan dalam kerangka kerjasama yang saling menguntungkan, maka rakyat, khususnya para buruh migran yang secara riil dan langsung bekerja dalam proses integrasi tersebut, seharusnya dapat turut menikmati keuntungan maksimal.

“Lihat saja kenyataan hari ini, buruh migran justru menjadi kalangan yang paling sengsara!” tegas Oki. Jadi, jangan ingkari kenyataan jika sesungguhnya, buruh migran telah menjadi tumbal dari penyatuan ekonomi di kawasan ASEAN, tandas Oki.

Advertisements

Written by INDIES

April 9, 2011 at 4:23 am

Posted in Siaran Pers

Tagged with ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: